04 November 2008

Hemostasis


Sebelumnya kita harus faham apa bedanya homeostasis dengan hemostasis. Jelasnya, hemostasis merupakan bagian dari homeostasis.

Definisi
Hemostasis merupakan proses kesimbangan tubuh yang menyatukan beberapa faktor, terbaru sebanyak lima faktor, antara lain: pembuluh darah, trombosit, faktor koagulasi, sistem fibrinolitik, dan faktor inhibisi.


Pada intinya, hemostasis memiliki fungsi:
a. menjaga darah agar tetap dalam keadaan cair,
b. menghentikan perdarahan ketika ada luka,
c. mengembalikan aliran darah selama proses penyembuhan

Kelima faktor tadi harus dijaga kesimbangannya. Adanya ketidakseimbangan dapat mengakibatkan trombus atau perdarahan.

Ada tiga mekanisme hemostasis
1. Primer :mekanisme vasokonstriksi pembuluh darah pada luka yang kecil.
2. Sekunder : mekanisme yang melibatkan faktor2 koagulasi dalam plasma dan trombosit dengan tujuan akhir pembentukan jala-jala fibrin, terjadi pada luka yang besar.
3. Tersier :mekanisme kontrol yang menjaga agar hemostasis tidak berlebihan melaku sistem fibrinolitik

Trombosit yang secara in vivo berada di tepi vasa darah, ketika ada vasa yang luka, berarti kolagen (muatan negatif) terpapar, akan melakukan adhesi atau perlekatan ke endotel. Adesi ini dimediasi oleh vWF, sebagai jembatan antara trombosit dengan endotel.

Vasospasme
Endotel yang rusak akan mengeluarkan endotelin, suatu substansi vasokonstriksi, sehingga aliran darah berkurang.
Adesi
Trombosit akan melekat ke kolagen endotel sehingga teraktivasi. Trombosit akan berubah bentuk, keluar pseudopodi. Selanjutnya, trombosit akan mengeluarkan ADP (agregasi trombosit), TxA2 (agregator juga), dan Serotonin (vasokonstriksi). Proses ini berlangsung terus menerus dan akhirnya, terbentuk sumbat atau platelet plug. Kalo lukanya kecil, proses ini saja sudah cukup.
Koagulasi -sebuah proses yang uaamaaattttt efisien-
Luka yang besar memerlukan proses yang lebih lanjut dengan mengaktifkan faktor-faktor koagulasi di dalam plasma. Fosfolipid (end product dari sumbat trombosit) akan menjadi inisiasi koagulasi jalur instrinsik(lebih dahulu). Sedangkan jalur ekstrinsik diinisiasi faktor jaringan(tromboplastin).
Koagulasi ada tiga jalur: intrinsik, ekstrinsik, dan jalur bersama. Jalur ekstrinsik dan intrinsik akan bertemu di jalur bersama dengan mengaktifkan faktor X. Faktor X ini sebagai aktivator protrombin menjadi trombin. Trombin akan mengaktivasi fibrinogen, hasilnya jala2 fibrin. Awalnya masih solubel, tapi berikutnya akan dikuatkan oleh faktor XIII, dengan cara polimerasi fibrin menjadi lebih padat.
Lebih detailnya, silakan lihat bagan.....

-bersambung-

Resolusi...Oh, Resolusi

Mengenang Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945
Oleh: Khoirul Anam

63 tahun yang lalu, tepatnya 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh
Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Rois Akbar NU Hadrotus
Syekh KH. Hasyim Asy’ary dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias
jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad.
Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian,
tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan
para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang
sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi
sepanjang kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu
akhirnya kalah.
Pasukan Inggris mendarat di Jakarta pada pertengahan September 1945 dengan nama
Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pergerakan pasukan Inggeis tidak dapat
dibendung. Sementara pemerintah RI yang berpusat di Jakarta menginginkan berbagai
penyelesaian diplomatik sembari menata birokrasi negara baru, mendorong terbentuknya
partai-partai politik dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pasukan Inggris telah menduduki
Medan, Padang, Palembang, Bandung, dan Semarang lewat pertempuran-pertempuran
dahsyat. Sebagian pendudukan ini juga mendapat bantuan langsung dari Jepang yang kalah
perang, sebagai konsekuensi dari alih kuasa. Sedangkan kota-kota besar di kawasan timur
Indonesia telah diduduki oleh Australia.
Pasukan Inggris lalu masuk ke Surabaya pada 25 Oktober 1945, berkekuatan sekitar 6.000
orang yang terdiri dari serdadu jajahan India. Di belakangnya membonceng pasukan Belanda
yang masih bersemangat menguasai Indonesia. Resolusi Jihad meminta pemerintah untuk
segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, dan kontan
disambut rakyat dengan semangat berapi-api. Meletuslah peristiwa 10 November. Para kiai
dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh
KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang
dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang
dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah.
Di saat-saat yang bersamaan, saat-saat perang kemerdekaan sedang berkecamuk dan terus
digelorakan oleh para kiai dan santri, dinamika dan persaingan politik dalam negeri semakin
memanas. Pada bulan Oktober Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan kembali. Lalu setelah
Makloemat Iks (4 November) dikeluarkan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, partaipartai
politik lain juga bermunculan. Dideklarasikanlah Pesindo dan partai Islam Masyumi.
Lalu, Maklumat Hatta 11 November mengubah pemerintahan presidensial menjadi
parlementer, pemerintah harus bertanggungjawab kepada KNIP yang berfungsi sebagai
parleman. Kabinet parlementer ditetapkan pada 14 November, dipimpin Perdana Menteri
Sjahrir dan Mentri Keamanan Amir Syarifudin.
 
Januari 1946, PNI dibentuk lagi tanpa Soekarno. Di sisi lain, “Tentara profesional” dan
kelompok gerilyawan melakukan konsolidasi. Pada saat-saat itu juga Indonesia sedang
mengalami “revolusi sosial” hingga ke desa-desa. Pertikaian merajalela dan kekacauan tak
terhindarkan lagi. Waktu itu timbul pertikaian horisontal yang terkenal dengan “Peristiwa
Tiga Daerah” yakni Brebes, Pemalang dan Tegal. Kondisi inilah, tak pelak memberi peluang
bagi upaya-upaya militer Belanda (yang sebelumnya datang membonceng sekutu) untuk
semakin merangsek masuk menguasai kota-kota besar di Indonesia. Belanda semakin
intensif menguasai Jakarta, sehingga Pemerintah Republik terpaksa mengungsi ke
Yogyakarta pada Januari 1946.
Maret 1946, PM Sjahrir mencapai kesepakatan rahasia dengan van Mook bahwa Belanda
mengakui kedaulatan RI secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera. Sementara
Belanda berdaulat atas wilayah-wilayah lainnya. Kedua belah pihak juga menyepakati
rencana pembentukan uni Indonesia-Belanda.
Di tengah tekanan Belanda itu NU menyelenggarakan muktamar yang pertama setelah
proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Muktamar ke-16 itu diadakan di Purwekorto
pada 26-29 Maret 1946. Salah satu keputusan pentingnya, NU menyetuskan kembali
Resolusi Jihad yang mewajibkan tiap-tiap umat Islam untuk bertempur mempertahankan
kemerdekaan Indonesia yang saat itu berpusat di Yogyakarta. Kewajiban itu dibebankan
kepada setiap orang Islam, terutama laki-laki dewasanya, yang berada dalam radius 94 km
dari tempat kedudukan musuh. (Radius 94 diperoleh dari jarak diperbolehkannya menjamak
dan menqoshor sholat). Di luar radius itu umat Islam yang lain wajib memberikan bantuan.
Jika umat Islam yang dalam radius 94 kalah, maka umat Islam yang lain wajib memanggul
senjata menggantikan mereka.
Dalam podatonya, Mbah Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan
para peserta muktamar. untuk disebarkan kepada seluruh warga pesantren dan umat Islam.
Syariat Islam menurut Mbah Hasyim tidak akan bisa dijalankan di negeri yang
terjajah. ”…tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negerinegerijajahan.”
Kaum penjajah datang kembali dengan membawa persenjataan dan tipu
muslihat yang lebih canggih lagi. Umat Islam harus menjadi pemberani.
Apakah ada dari kita orang yang suka ketinggalan, tidak turut berjuang pada waktuwaktu
ini, dan kemudian ia mengalami keadaan sebagaimana yang disebutkan Allah
ketika memberi sifat kepada kaum munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama
rasulullah…
Demikianlah,
maka sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan
kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala kekuatan dan kesanggupan
yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambut pun.
Barang siapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti
memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya…..… maka barang siapa yang
memecah pendirian umat yang sudah bulat, pancunglah leher mereka dengan pedang
siapa pun orangnya itu…..

 
Perang terus berkecamuk, jihad terus berlangsung. Belanda yang sebelumnya membonceng
tentara Sekutu terus melancarkan agresi-agresi militernya. Pihak Inggris sebenarnya tidak
senang dengan cara-cara yang ditempuh oleh Belanda. Pada Desember 1945 pemerintah
Inggris secara tidak resmi mendesak pemerintah Belanda agar agar mengambil sikap yang
lebih luwes terhadap Republik Indonesia. Pada 1946 diplomat Inggris, Sir Archibald Clark
Kerr, mengusahakan tercapainya persetujuan Linggarjati antara republik Indonesia dengan
Belanda. Persetujuan ditandatangani, namun Belanda tiba-tiba meancarkan agresi militernya.
Menjelang akhir 1946, komando Inggris di Asia Tenggara dibubarkan, dan ”tanggung jawab”
atas Jawa dan Sumatera diserahkan sepenuhnya kepada Belanda. Sejak itu, orang asing yang
semakin terlibat dalam pertikaian antara Republik Indonesia dan Belanda, menggantikan
Inggris, adalah Amerika Serikat. Mungkin sampai sekarang.

02 November 2008

KARENA BENCANA TAK MEMBERI KABAR....


Cijeruk. Thank’s to mas Rio Koass 2004 yang sudah menawari saya untuk ikut kegiatan ini. Kegiatan ini diselenggarakan oleh MER-C Pusat, bertempat di kawasan Cijeruk Bogor, tanggal 24-26 Oktober 2008, mengundang relawan-relawan MER-C seluruh Indonesia. Keseluruhannya, terdapat 5 cabang yang megirimkan perwakilannya, antara lain: Medan, Jakarta, Semarang, Jogja, dan Solo. Tak kusangka, sebagian besar peserta sudah berprofesi semua. Kebanyakan sudah dokter, perawat, farmasist, dsb. Herannya wajah mereka masih tergolong ”imut2”, khususnya mas Kusuma, eh dr.Kusuma lebih tepatnya, seorang alumnus Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang.

Tim Jogja yang dikirim ada 6 orang, antara lain, Pak Tuwarji (Pimpinan umum Komunitas Relawan Donor Darah, he2), Zakiy (UGM), dr. Indi (UMY), Tosin, Arif, dan Wisma (tiga yang terakhir adalah mahasiswa Stikes Surya Global). Tim ini benar-benar nekat dengan melakukan perljanan Jogja-Jakarta dengan mengendarai ambulan. Lebih nekatnya lagi, Sang Driver merupakan driver satu-satunya selama perjalananpergi-pulang, salut untuk Pak Tu. Kami berangkat dari Jogja hari Kamis pukul 16.00. Perjalanan yang melelahkan itu diakhiri pada pukul lima pagi dengan ISHOMA di rumah dr. Riza Afrizal di kawasan Jakarta Timur, salah satu alumnus UGM yang dulu juga aktif di MER-C Jogja, makasih Bang (konon katanya, seminggu setelah itu dia menikah dengan kawan SMA-nya-red.)

Langsung saja, setelah itu kami semua menuju ke Kramat Lontar lokasi Markas MER-C Pusat, eh ternyata di depan jalan itu berdiri Kantor PB Nahdlatul ’Ulama, tempat berkumpulnya ulama-ulama sunniy Indonesia. Dari sana, seluruh peserta ”diangkut” menuju lokasi pelatihan di Cijeruk Bogor. Selama perjalanan, sepanjang jalan selalu tampak poster atau bendera partai peserta PEMILU, he2...maklumlah...

Kami semuanya diinapkan di Lido resort, kalo menurut saya, tempat itu semacam tempat outbond-outbond gitu. Hari pertama (Jum’at), penuh diisi dengan materi team building dan all about MER-C. Yang paling berkesan adalah ketika para panitia menghadirkan pendiri-pendiri MER-C, ada dr. Jose Rizal, Sp. OT dan dr. Sarbini. Beliau berdua bercerita tentang bagaimana MER-C didirikan, bagaimana MER-C bernafas, dan bagaimana MER-C berkarya. Intinya, MER-C adalah sebuah lembaga sosial yang membawa misi benar2 murni kemanusiaan. Dr. Jose bilang, ” MER-C hadir dari fakta ketimpangan dimana saat itu, dkonflik antar agama di Ambon, perintis MER-C melihat adanya ketidakadilan dalam pemberian pertolongan kesehatan dengan kata lain pilih kasih”. Nah, MER-C membawa misi Islam untuk bisa memberikan bantuan ke semua makhluk, orang sering mendengarnya sebagai prinsip Rohmatan Lil ’Alamin. Perbincangan kami dilanjutkan setelah acara selesai. Enaknya, ngobrol dengan dr. Jose dan dr. Sarbini mesti berbobot. Kami ngobrol seputar misi Yahudi sampai PKS, Fuih...banyak lah pokknya....he3....

Hari kedua pun tiba. Sesuai jadwal, hari kedua diisi dengan teori dan konsep penangan bencana, mulai dari triase, navigasi darat, mendirikan tenda, evakuasi korban, dll. Di situ, yang kufahami, bahwa penanganan korban bencana di lapangan tak bisa disamakan dengan korban di rumah sakit, sekalipun itu UGD-nya. Banyak hal yang harus dimodifikasi sebab sumber daya yang minimal tapi masih harus dengan tujuan yang maksimal, yakni korban yang selamat banyak. Pemateri antara lain, dr. Hendri untuk triase, dr. Cahyo untuk evakuasi korban, dr. Yogi untuk Rumah Sakit Lapangan, dan satu lagi navigasi darat yang saya lupa namanya, yang jelas beliau adalah spesialis bedah saraf kata Pak Tu, maaf ya dok...

Tibahlah hari terakhir pelatihan. Hari ketiga akan diisi praktek, praktek, dan praktek. Eh, tapi pagi harinya ada sebuah materi tambahan sebentar. Ada dua praktek yang akan dilakukan, tidak lain tidak bukan merupakan aplikasi dari kuliah yang telah diberikan. Ada evakuasi korban dan navigasi darat. Disitu, kami ditugasi untuk triase dan melakukan intervensi akut. Fuih, ternyata... Baru simulasi saja sudah begitu panik, apalagi bencana beneran. Banyak peserta yang salah men-tagging korban. Walhasil, ada korban yang tagging-nya bisa berubah drastis. Bayangkan, dari hijau menjadi hitam, Innalillahi wainna ilahi roji’un.:( Sesi kedua, diisi dengan navigasi darat. Kami diberi peta topografi daerah setempat dan ditugasi mencari kartu spesifik. Lumayan, karena dibuat kompetisi, tim saya (Jogja-Medan) begitu semangat, dan juara 2.
Akhirnya, tiga hari tak terasa telah berlalu. Tibalah saatnya, saling berpamitan untuk kembali ke daerah masing-masing guna mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Secara umum, pelatihan ini sangat bermanfaat buat kita, khususnya bagi kawan-kawan yang memang terjun di dunia medis. Gempa, banjir, gunung meletus, bahkan konflik perang tentu akan banyak menimbulkan korban. Tentunya, kehadiran tenaga bantuan yang ”rohmatan lil ’alamin” amat dibutuhkan. Tenaga yang ikhlas menolong korban tanpa membedakan latar belakang korban, itulah prinsip Islam. Ke depan, perlu diadakan kembali baik oleh pusat maupun cabang, tentunya setelah evaluasi yang matang. Sehingga, lebih banyak lagi masyarakat yang sadar akan gempa dan mampu bersikap secara bijak dan adil lantaran ilmu yang dipunyai. Ya, KARENA BENCANA TAK MEMBERI KABAR!

Oke!!! Sekian laporan dari Cijeruk, semoga bermanfaat.
Go MER-C!!! Semoga tetep jaya! Seperti kata dr. Jose, teteplah ikhlash! Allah yang Kasih jalan!!!

Ibnu Sina, 09.00

01 November 2008

Rais Syuriyah PWNU Jatim: Jangan Keliru Pilih Pemimpin

Surabaya, NU Online
Pemilihan gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) yang akan dilangsungkan pada 4 November nanti tinggal menghitung hari. Tingginya persaingan antar kandidat semakin terasa. Apalagi ada dua kader NU di sana, yaitu Khofifah Indar Parawansa (Ketua Umum PP Muslimat nonaktif) yang maju sebagai calon gubernur dan Saifullah Yusuf (Ketua Umum PP GP Ansor nonaktif) yang maju sebagai calon wakil gubernur.

Dalam posisi itu Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Miftachul Akhyar mengingatkan agar warga NU tidak golput dan juga tidak salah pilih. Sebab keduanya memiliki risko. Kiai Miftah meminta agar warga NU bisa menggunakan hal pilihnya dengan baik dalam Pilgub nanti.

Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Kedungtarukan Surabaya itu mengingatkan untuk tidak memilih kader yang mempunyai track record kurang baik, suka mengobok-obok dan mengacak-acak internal NU serta suka berjalan zig-zag dalam dunia perpolitikan sehingga dikesankan sebagai 'kutu loncat'.

“Demi memenuhi ambisi yang besar, ia melakukan apa saja, termasuk dengan loncat ke sana dan ke mari. Ini pertanda calon itu kurang baik, tidak bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin,” kata Kiai Miftah yang disampaikan khusus kepada NU Online di Kantor PWNU Jawa Timur, Jl Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya, Sabtu (1/11).

Kiai Miftah mengingatkan kembali pada Qanun Asasi Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang memerintahkan untuk tahaqquq (menelusuri) asal usul seorang calon pemimpin sejak awal. Tidak bisa cukup melihat hasil kampanye, tapi harus dilihat juga perjalanan dia sejak jauh sebelum dia maju sebagai calon gubernur.

Ia menambahkan, dalam tradisi NU, jika ada kader yang lebih baik siap maju, apalagi menempati posisi yang lebih strategis, mestinya kader yang lain mempersilakannya. Dia segera mundur memberi jalan. Bukan malah menantang bertarung di gelanggang terbuka. “Jangan sampai NU ketularan penyakit seperti itu,” imbuhnya.

Kiai Miftah juga menyitir sebuah kaidah ushul fiqih yang menyebutkan bahwa menolak mafsadah (kerusakan) itu harus lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. “Orang mulai lupa, malah dibalik, sekarang lebih suka mengambil manfaat lebih dulu tanpa memperhitungkan kerusakan yang akan ditimbulkan di kemudian hari,” jelas kiai alumnus beberapa pondok pesantren salaf itu.

Putra menantu dari Syeikh Masduqi Lasem itu mengaku perlu mengingatkan hal itu karena dirinya merasa sedang diamanati sebagai pimpinan. Menurut Kiai Miftah, dalam konteks maslahah dan mafsadah yang bisa lebih tahu adalah pemimpin, karena itu ia merasa berkewajiban untuk menyampaikannya.

“Jangan sampai kita keliru memilih pemimpin, sebab akan berdampak pada jam’iyah kita juga,” katanya. (sbh)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah....
washsholaatu wassalamu 'ala Saiyidina Muhammadin wa 'ala alihi washohbihi ajma'in...
Assalamu'alaikum semua.....
Akhirnya...kesampaian juga punya web, eh blog ding, tak apalah....
Ini sebuah wasilah untuk kita saling berbagi, menyampaikan saran, dan mendapatkan kritikan. So, jangan sungkan-sungkan...
Salam persaudaran semuanya...
Tulisan ini adalah pembukaan. Karenanya, dengan harapan blog ini memperoleh keberkahan, Al-Fatihah.....
Ya Allah...Ridloilah sedikit ikhtiar ini, sebagai ikhtiar yang Engkau berkahi...
Ya Allah...Tuntunlah hamba, selalu dalam jalan yang Engkau Ridloi...
Ya Hayyu Ya Qoyyumu bi rohmatika astaghits....
Amin...